Senin, 05 September 2016

Nafsu ⵁ Palsu

Angin gerakkan plastik diantena
Saksi bising kota
Aktifitas berlari dari pagi kembali pagi
Hiraukan kehadiran plastik
Yang siapkan rencana besar

Plastik didihkan keinginan
Sapu semua ke ujung jalan
Dibalik peran mematikan
Meneror perasaan penyesalan
Plastik dimana-mana

Terbahak saat diinjak
Sedih saat dibuang
Bawa genangan berisi bibit kebencian
Sandiwara plastik terus berlanjut
Sampai tanah terakhir

Yang Tak Dapat Kembali

Tajam kutatap
Jelas kudengar
Kuat kurasakan
Teriakmu dalam diam
Rapuh, takut, dekil, dan renta... menyedihkan

Raga yang tak kuat menahan diri
Jiwa yang tak bisa kembali
Mimpi yang tak mungkin terwujud
Akal yang tak bertemu rasa
Cinta yang tak lengkap
Hidup yang tak jelas
Aku yang tersedak fana

Bebek tersesat dapat kembali pulang
Awan hitam dapat kembali ke laut
Cita-cita dapat kembali diwariskan
Mentari dapat kembali ke ufuk timur
Aku tidaklah hebat
Untuk dapat kembali melanjutkannya
Untuk dapat kembali mengucapkan salam

Surat Biasa

??

Bebas itu... Apa?
Apa angin yang terhempas lalu hilang
Atau awan yang mencari jalan pulang
Mataku mencari jawaban di langit biru

Ada lalat lugu hinggap dikakiku
Menikmatiku seperti aku menikmati kebodohanku
Diam menerawang jati diri
Mengalir dari darah ke daun pikiran
Mencari diantara keberanian dan ketakutan,
Malu, bodoh, dan kenaifan

Jika mimpi, inginku berhenti
Jika nyata, inginku berhenti
Dibalik mata yang melihat aku berdiri
Benda itu menancap tepat dihidupku, menghentikan waktu
Wahai nafas terakhir...
Bebas itu... Apa?