Minggu, 13 September 2015

BOSAN

Beberapa minggu ini saya mulai berpikir betapa hari-hari libur ku telah berlalu dengan membosankan. Jarang keluar rumah (bahkan nyaris tak pernah), tidak punya teman chating di sosial media, jauh dari teman-teman dan tidak punya kesibukan sama sekali. Di saat libur, otak pun ikut libur tidak ingin melakukan apapun walau hanya sekedar mengambil remot tivi. Betapa hidup di kost tanpa teman serasa lautan tanpa rasa asin (agak aneh), terlebih dibebani seorang adik yang harus di jaga (#merepotkan). Perempuan pula. Saya sebagai kakak laki-laki tidak mengerti jalan pikiran perempuan yang ingin kepastian. Entah kenapa jika dia bertanya senyum di mulut berubah jadi wajah cemberut yang langsung bikin mood ku hilang. Bukan karena saya yang tidak ingin menjawab pertanyaannya tapi karena mutu kualitas pertanyaannya yang kekanak-kanakkan.
Misalkan saja soal film jepang romantis yang baru saya tonton, tiba-tiba dia bertanya seperti apa cewek tokoh utama? Kenapa cowok tokoh utama begitu dingin? Kenapa bigini?, begitu?, akhirnya bagaimana?
Ya itu semua bikin saya jengkel karena film itu baru saya tonton. Saya jawab saja, “mana saya tau!!!” (dalam hati *menyebalkan bikin mood nonton menurun saja*)
Satu hal lagi yang bikin saya jengkel adalah jika saya ingin berbagi cerita seru tentang film yang sudah saya tonton tapi saya tonton lagi di depannya dia hanya melirik saja, sambil pasang headset lalu bernyanyi sendiri. Padahal tadi dia ikut menonton. Itu membuat saya kesal, jika film kesayangan dianggap dan ditonton acuh tak acuh seperti itu.
Sungguh menambah kualitas liburan yang buruk semakin terpuruk tanpa ada yang bisa memahami atau sepemikiran.
Baru-baru ini saya beli buku novel karya ANDREA HERATA yang sedang popular berjudul AYAH. novel yang wajib di baca. Ceritanya seru dan karena punya imajinasi yang agak liar, saya sampai beberapa kali di tengah mambaca cerita yang seru dan sentimental langsunglah terbang khayalan yang liar bagaikan saya dapat melihat sendiri kejadian demi kejadian yang diceritakan di novel. Itu semua paling tidak dapat mengalihkan kesunyian dan kesepian yang tengah melanda jiwa yang sedang berkelan mencari jati diri (akibat membaca novel yang puitis tiba-tiba saya juga jadi puitis).
Tetapi buku itu telah habis saya baca saat saya mulai menulis tulisan ini. Sungguh saya sebenarnya masih ingin membaca cerita macam itu sampai libur ku berakhir seminggu lagi. Buku itu saya baca selama tiga hari. Walaupun sebenarnya bisa saja saya habiskan dalam sehari saja, hanya saja kondisi kost yang gaduh bagai perang dunia pertama membuat kosentrasi dalam membaca sambil mengkhayalkannya kacau balau.
Saya orang yang tipe suka keadaan yang tenang, sunyi dan damai jika ingin mengerti sesuatu dan memahaminya. Untuk membaca buku diperlukan kondisi yang tepat agar semua rahasia dalam cerita atau buku dapat terungkap dan dimengerti. Bahkan sampai dapat merasakan apa yang penulis ingin sampaikan.
Dengan berakhirnya membaca buku yang berjudul “AYAH sebuah novel” ini, maka hari-hari yang kelam kelabu yang penuh dengan kejenuhan, kesepian dan kehampaan akan menemani hidupku sekali lagi. Yang bahkan perasaan itu dapat mengalahkan rasa haus dan lapar.
Pernah dengar kesepian lebih kejam dan sadis dari pada pembunuhan dan racun??
Jika belum… So, kalian barusan sudah membacanya.
Mungkin beginilah hidup menjomblo karena prinsip yang mengutamakan pendidikan.
Maka jangan biarkan predikat JOMBLO itu hanya sekedar JOMBLO tapi bisa disisipkan satu kata lagi untuk menemaninya yang bisa merubah artinya jadi lebih baik yaitu MANDIRI. Jadi jika kalian JOMBLO MANDIRI maka tidak diragukan lagi kalian adalah orang yang tegar, tabah, dan mapan. (mungkin kata yang terakhir itu harus diupayakan dengan usaha sendiri ya)
Berusahalah mulai dari sekarang ya guys.